Senin, 17 Februari 2014

Bersambung.

"Siapa alasan dari lengkung di wajahmu? Siapakah yang terpantul dalam bening matamu?"
Berlalu-lalang dalam kepala. Menyisakan gelisah, tanya, dan lamunan berat.
Tak hanya curiga, pikiran jahat dan prasangka menyerang dengan gencarnya. Namun yang dapat dilakukan hanya tetap percaya bahwa ada seseorang yang tengah berjuang pula di suatu tempat sana.  

Merajut kenangan, menjadi sweater penghangat pikiran.
Karena tidak pernah mengecewakan untuk percaya pada tatapan sayu. Janjinya tak pernah layu atau terbang bersama bayu.

Namun entah, mengapa bertambah dewasa tidak membuat perpisahan demi perpisahan yang dialami terasa lebih ringan dan menyenangkan? Mereka yang meninggalkan akan pergi dan sibuk untuk beradaptasi kembali, sedang mereka yang ditinggalkan akan sibuk menata lagi hari dengan kenangan-kenangan yang berserakkan di setiap sudut ruang.
Bagaimana hidup bersamamu setiap hari menyisakan rindu yang tak pernah tersalur. Sebab kamu tak nyata dalam pandang. Hanya kenangan yang kau tinggalkan.

Tapi tak apa, setiap senti waktu adalah berharga. Setiap lembar harapan serta nama yang kulipat dan larung dalam doa adalah kekuatan untuk melangkah ke depan.
Mari menunggu waktu memulai pertunjukkan yang kita siapkan. Mari berjuang. Mari berusaha.
Aku menanti di tepi hamparan pasir yang menunggu kita jejaki.


Hari seperti ini.

Di hari seperti ini pada bagian waktu yang telah lalu, dua orang remaja pergi menyudut dari bising kota. Mereka pergi bersama hanya untuk merekahkan rasa dan tawa. Lalu pulang dengan senyum malu-malu terukir di wajah.

Kini dua manusia dewasa terpisah dalam rentangan jarak yang berbeda. Menerka-nerka rasa, melarutkan bayang kekasih lampaunya dalam lamunan, dan saling mendoakan.

15 Feb 2014


Minggu, 09 Februari 2014

Potongan cinta di halaman Gereja

"Dulu dari sebuah desa di pinggiran kota, sekelompok malaikat kecil sedang bermain, saling mengejar dan tertawa di halaman Gereja. Dan aku sungguh bersyukur dapat berada di tengah mereka. Sambil sesekali mencuri senyummu dalam cahaya senja.

Kemarin saat pulang, aku kembali berlari di halaman Gereja. Kini sendiri tanpa para malaikat kecil. Mereka telah dewasa dan memilih untuk meninggalkan sayap putihnya. Tapi Gereja dari kayu itu masih berdiri dengan rupa yang tak berbeda dari yang lalu. sama seperti perasaanku, tak lapuk, tak rapuh. Masih sama seperti gembiranya hari itu, saat para malaikat kecil mengenalkanku pada indahnya senyummu."


Selasa, 14 Januari 2014

Peringatan musim

Kepada Daun,
Sebentar lagi angin siap menerjang. Bersiaplah.


Hari ini cuaca mulai kehilangan kestabilannya. Dengan lantang hujan datang, tak berarti sejurus kemudian matahari tak menyengat dengan ganas.
Tampaknya kau tak perlu berwas-was sendiri menghadapi musim.

Kelopak dandelion pun mulai kehilangan arah ketika angin terasa ingin menyerah.



Rabu, 11 Desember 2013

Masa dan Waktu

Kembali pada masa lalu bukanlah pilihan.
Seperti air yang tak hilang dari bumi. Yang terus mengalir, terbendung, menguap, jatuh, dan mengalir lagi.
Masa depan hanya masa lalu yang becermin. Begitulah masa yang terus menyinggahi waktu.

Masa depan, masa lalu, masa kini. Sekat-sekat maya yang kita ciptakan sendiri.
Yang ada hanya kini. Sekarang, kita disini.

Kamis, 05 Desember 2013

Kertas bergaris kosong.

Aku merasa tak ubahnya sepetak tanah tandus yang keriput. Sepetak tanah yang sibuk mengukur luas hingga lupa pada kehidupan. Sekarat.
Enam bulan. Enam bulan aku tidak belajar! Bahkan tak mengerti apa yang sedang kutekuni.
Segalanya hanya candaan yang mampir masuk kepala dan kemuadian terbirit-birit dikejar tanggungjawab.
Akulah aktor yang naik keatas panggung. Terus berbicara menciptakan busa, hingga terengah, terperangah!

Orang tua dan sahabat mendekat dari ujung gelap. Dari sudut yang sudah lama tak kupandang. Hampir ditinggalkan.
Mereka menamparku dengan kenyataan enam bulan ini.
Apa yang aku tekuni, yang kupelajari?

Cermin kecewa memantulkanku. Tidak muat lagi sesalku untuk yang lalu.
Tapi aku masih berusaha. Jangan marah, aku tidak apa-apa.
Hanya perlu memperbaiki yang sudah retak, menambal yang berlubang.
Mengulang apa yang seharusnya tak perlu Terulang!

Bodoh.