Selasa, 14 Januari 2014

Peringatan musim

Kepada Daun,
Sebentar lagi angin siap menerjang. Bersiaplah.


Hari ini cuaca mulai kehilangan kestabilannya. Dengan lantang hujan datang, tak berarti sejurus kemudian matahari tak menyengat dengan ganas.
Tampaknya kau tak perlu berwas-was sendiri menghadapi musim.

Kelopak dandelion pun mulai kehilangan arah ketika angin terasa ingin menyerah.



Rabu, 11 Desember 2013

Masa dan Waktu

Kembali pada masa lalu bukanlah pilihan.
Seperti air yang tak hilang dari bumi. Yang terus mengalir, terbendung, menguap, jatuh, dan mengalir lagi.
Masa depan hanya masa lalu yang becermin. Begitulah masa yang terus menyinggahi waktu.

Masa depan, masa lalu, masa kini. Sekat-sekat maya yang kita ciptakan sendiri.
Yang ada hanya kini. Sekarang, kita disini.

Kamis, 05 Desember 2013

Kertas bergaris kosong.

Aku merasa tak ubahnya sepetak tanah tandus yang keriput. Sepetak tanah yang sibuk mengukur luas hingga lupa pada kehidupan. Sekarat.
Enam bulan. Enam bulan aku tidak belajar! Bahkan tak mengerti apa yang sedang kutekuni.
Segalanya hanya candaan yang mampir masuk kepala dan kemuadian terbirit-birit dikejar tanggungjawab.
Akulah aktor yang naik keatas panggung. Terus berbicara menciptakan busa, hingga terengah, terperangah!

Orang tua dan sahabat mendekat dari ujung gelap. Dari sudut yang sudah lama tak kupandang. Hampir ditinggalkan.
Mereka menamparku dengan kenyataan enam bulan ini.
Apa yang aku tekuni, yang kupelajari?

Cermin kecewa memantulkanku. Tidak muat lagi sesalku untuk yang lalu.
Tapi aku masih berusaha. Jangan marah, aku tidak apa-apa.
Hanya perlu memperbaiki yang sudah retak, menambal yang berlubang.
Mengulang apa yang seharusnya tak perlu Terulang!

Bodoh.

Kamis, 28 November 2013

Selamat Pulang


Jika waktu dapat berputar kembali, hanya siang itu yang ingin aku kunjungi.
Saat itu, aku masih preman yang tak tau malu. Masih kekanak-kanakkan dan sulit menangkap arti tatapan.
Tapi kamu menyambutku dengan senyuman. Entah karena apa.
 
Esok aku kan pulang. Dengan berbeda namun rasa yang sama. Mengunjungi siang-siang yang merindukan sapa. Aku tak sabar dinanti di bandara. Menginjak kembali tanah kelahiran yang penuh hiasan. Kenangan yang kita rangkai di tiap sudutnya.
Kali ini, aku ingin kita benar-benar bersua. Setelah bertahun-tahun tak saling memandang mata. Aku ingin kamu memelukku lebih kencang. Sedikit lebih lama dan dalam.
Tak ada yang berubah bukan? Katakan bahwa udara masih penuh dengan cinta.

Rabu, 27 November 2013

Stak

Biar sebentar kurebah di sini. Menatap langit di celah rimbun hijau menari.
Sebelum kau sapu hati kering yang gugur ini, sampaikan salamku pada dahan. Pada kumbang musim depan yang takkan kutemu lagi.
Pada bayu dan mentari. Petang dan terik.

Langit, kini saatku pulang ke bumi.

Hati

Judul di atas yang tak terkurung.
Ini bukan tentang buku diary yang penuh hanya dengan sebuah cerita.
Berbuku-buku ruang di hati, bukan hanya tentang malam saja. Gelas, bunga, wine, dan cahaya lilin tak semata mengisi meja.
Aku tak sengaja duduk di sini. Dengan dua kursi lain melingkari meja ini.

4 sept '13

Jumat, 22 November 2013

Jendela Bujur Sangkar.



Setelah berhasil masuk dalam mimpi, lalu akan menyinggahi hati?

Aku mulai khawatir. Setiap hari, kecuali sabtu dan minggu. Jendela seperti bujur sangkar yang memanggil tuk dipandang. Persegi yang dilewati bayu dan khayal. Mengantarkan banyak mimpi menuju ruang angkasa.

Bujur sangkar dari besi itu. Bujur sangkar yang tepat di tengahnya tercetak senyummu.

Canda, tawa, decakmu yang hinggap di telinga. Menggelitik jiwa tuk ikutserta gembira. Sesekali melafalkan namaku, menoleh dan tertawa. Senyum yang persis dengan ayahmu.

Dan kau tak pernah tau bukan,
Bukan hijau daun segar yang memanggil pandang lewati jendela. Tapi kamu, yang selalu duduk di sana memandangi cerita si papan hitam.