Sabtu, 07 September 2013

Tak Berjelas.



Jika aku bisa mengendali rasa,
mungkin takkan sekeruh ini.
ketika decak kagum keluar dari ingin taunya,
ketika ketik mesra yang tertulis disana.

Hanya benci yang tertinggal.

Yang menjatuhkannya bukan iri, bukan cinta yang tak termiliki,
hanya 2 batu sekutub yang saling menolak.
dan aku memungutnya,
bersarang dan terbang berputar.

Hey, siapa yang memberi makan, hingga tumbuh dan berkembang?
Entahlah.

Jika benci butuh alasan, aku menjadi satu-satunya yang tidak.
tanpa penjelasan.
_________________________________________________
Dan akhirnya, tak seluruh dari dunia butuh penjelasan bukan?
Ini bukan untuknya, yang terkasih.

Rabu, 04 September 2013

Siapa Peduli.



Iya gadis, aku memang sudah enggan peduli.
Maafkan aku yang benar-benar lupa.
tak ingat dengan jelas lukisan parasmu.
ini bukan cermin yang dilapisi kebohongan. Memantulkan kebencian atau kemunafikan.

Aku hanya lupa. Hanya kebiasaan manusia biasa.
Oh iya, tapi aku tak lupa benang abu-abu diantara sela kita.
dan,
aku tak peduli.
Tak ada kusutan pada kenyataan.
Biar saja biarku tetap biarkan.

Aku sedang berbahagia, tak boleh ada yang menggugatnya.
Semoga kamu juga akan selalu bahagia.

Maaf jika aku menggantung kalimat yang tak sampai ke tanah.

Salam,
Anyelir Merah.

Selasa, 03/09/2013

Maaf kemarin



Aku sedikit takut menulis hari ini, sayang.
dengan tumpulnya berani, pecah jika kupaksa kali ini.
Aku hanya takut salah lagi.
Bak kehilangan pensil dan tak punya pena sendiri.
Aku tidak ingin menulis kejahatan lagi.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Mengejarmu.



Aku ingin mengejarmu,
hingga puncak tertinggi rindu ini.
Bersama desiran sendu yang mengusik hati.

Bagaimana debaran detak jantungku yang berdiskusi sengit dengan waktu.
Menawar rentangan jarak tuk bisa dibelah.

Dengan rintik panas yang meleleh dari awan diatas sana,
aku melihatmu kaku menanti dalam dimensimu sendiri.

Reinkarnasi rindu cepat lahir berkali-kali.
Lari, lari, lari, dan lari. Jatuh!

Di sudut bibir malam, aku menepi.

Kamis, 29 Agustus 2013

Tak Henti



Cat putih yang tumpah diatas Anyelirku.
Yang memudarkan warnanya menjadi Merah muda. Dengan makna dan arti yang berbeda.

“lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia. Hapuskan memoryku tentangnya”
Cih, tak semudah itu.

Namun kasih, seperti kapas-kapas ringan yang mengambang di langit jingga,
begitu kenangmu yang melekat pada langit kepalaku.
Kisah kita adalah sepersekian detik yang tak terganti.

Sebuah pohon rindang yang tumbuh diatas bangkai pohon lainnya.
dan kamu rela.

Wangi yang selalu ikuti langkahku,
yang terkunci dalam botol parfum milikmu.

Setelah sekian lama.

Senin, 26 Agustus 2013

Perangkap.

Aku adalah sukma yang terperangkap.
adalah sukma di sudut ruang.
sukma yang tertawa dan menangis di bawah meja.
yang menyembunyikan mimpinya dalam putih Hvs.
sukma yang menangkap kenyataan dan menyublimasikannya ke dalam mimpi.
Sukma yang mencari tubuh yang tepat.

apa ini tubuh yang harusnya aku hidupi?
Lalu, mengapa matahari terlihat jingga?
birukah langit diatas sana?
tempatku berlari-lari. Lari dari pijakkan dinginnya bumi.

Jika ini tubuh yang benar, mengapa ia tak hangatkan jiwa?
Tubuh ini adalah daun yang jatuh dalam kolam,
terbawa air dan tertambat di tepi.

Jika ini tubuhku,
biarkan aku merambati tiap senti kulitku, mengenal, dan mendetakkan jantung yang telah berhenti.
Ijinkan aku hidup di Bumi.