Terima kasih pernah mampir sebentar di sini.
Walau cangkir di lemari akan merindukan kepulan asap teh yang kubuat untukmu,
paling tidak kursi yang kau duduki itu pernah merasa hangat setelah sekian waktu berlalu.
Terima kasih sudah segera pergi,
kamu hanya tidak mau menyakiti 'kan? Sebelum aku jatuh lebih dalam masuk lamunan.
Sebelum aku memenuhi dinding dengan macam-macam gambar senyuman.
Terima kasih segera peka,
kamu hanya tidak mau suatu nanti aku terkurung dalam gelap 'kan? menimbun diri dengan harapan yang kuciptakan sendiri.
Jangan tanyakan bagaimana dalam aku kehilangan.
Merindukanmu seperti pagi cerah yang kehilangan fajar. Seperi malam yang tak kenal gelap.
Tapi aku takkan berubah. Jangan terlalu menyesal telah pergi, aku adalah makhluk paling bahagia di bumi.
Aku akan selalu bahagia. Luka kecil di lutut, sikut, atau tulang kering sudah seperti teman bermain.
Aku akan selalu hangat dan membuka tangan. Syukurlah ada malaikat yang mereka sebut sahabat.
Akhirnya kini aku jadi lebih mengerti, kadang kala "menunggu" bisa jadi hal yang
menyenangkan, begitu dirindukan.
Romantis dan tragis secara bersamaan.
Rabu, 04 Juni 2014
Senin, 02 Juni 2014
Hanya kemarin.
Hanya sampai kemarin aku menjadi pengagummu yang lugu.
kenyataannya adalah tak ada daun yang tinggal setia di dahan. hingga pada waktunya tiba, mereka akan pergi diterpa musim berangin.
Sama seperti kamu kemarin.
Yang diam-diam pergi meninggalkan senyumku yang terpaku untukmu.
Sama seperti kamu kemarin yang menyisakan gundah diakhir kehadiran.
Kamu memaksaku untuk menerka.
Bahwa mungkin kamu hanya bersinggah setelah penat menghadang.
Mungkin pelabuhan yang kau kunjungi tidak begitu tepat di hati?
Huh, aku mulai berburuk sangka.
Kamu yang paling tau mudahnya kepercayaan kutitipkan pada siapapun.
kamu yang paling tau rentanya sekatku yang tipis pemisah lugu dan bodoh,
kamu yang meninggalkanku dengan sebuah tanda seru.
Dan kenyataan terbuka lebar di mata.
Kamu benar, dari seluruh yang datang, sebagian besar akan mudah pergi dan hilang.
kenyataannya adalah tak ada daun yang tinggal setia di dahan. hingga pada waktunya tiba, mereka akan pergi diterpa musim berangin.
Sama seperti kamu kemarin.
Yang diam-diam pergi meninggalkan senyumku yang terpaku untukmu.
Sama seperti kamu kemarin yang menyisakan gundah diakhir kehadiran.
Kamu memaksaku untuk menerka.
Bahwa mungkin kamu hanya bersinggah setelah penat menghadang.
Mungkin pelabuhan yang kau kunjungi tidak begitu tepat di hati?
Huh, aku mulai berburuk sangka.
Kamu yang paling tau mudahnya kepercayaan kutitipkan pada siapapun.
kamu yang paling tau rentanya sekatku yang tipis pemisah lugu dan bodoh,
kamu yang meninggalkanku dengan sebuah tanda seru.
Dan kenyataan terbuka lebar di mata.
Kamu benar, dari seluruh yang datang, sebagian besar akan mudah pergi dan hilang.
Minggu, 01 Juni 2014
Men
Darahku berdesir.
Setiap menemukan suratmu dalam kotak pos milikku. Aku berdesir.
Setiap kutiti satu-satu kata darimu, aku berdesir.
Memandangmu yang berlalu-lalang dalam kepala pun, aku berdesir.
Setiap menemukan suratmu dalam kotak pos milikku. Aku berdesir.
Setiap kutiti satu-satu kata darimu, aku berdesir.
Memandangmu yang berlalu-lalang dalam kepala pun, aku berdesir.
Jumat, 30 Mei 2014
Bertahanlah.
Tak sedikit yang datang dan pergi.
Menjauh dengan setoples madu atau datang dengan menggenggam empedu.
Ya, itu tidak salah.
Belum lama ini, seorang berbaju koko datang dengan wajah datar. Terlihat arogan.
Sudah lama ia sering berlalu-lalang di muka rumah, namun kami tak pernah saling memandang.
Sore itu ia datang, mengetuk pintu dengan pensil di tangan.
aku pikir, itulah pensil yang aku cari untuk kertas di lemari.
Kami duduk dan mulai berbincang ria.
Dari kristal di dalam mata, abu-abu yang hidup di kanvas, ajaibnya dunia, hingga cemilan renyah berbunyi tawa. Tak sekali ia mengingatkan untuk tak lupa pada kalung Salib yang melingkari leher. Tak seperti mereka yang malu-malu untuk berkata.
Semua mulai terlihat berbeda. Tak ada bedanya kami memandang vertikal.
Hanya situasi terlalu sempit untuk pandangan kami yang luas.
Dan pembicaraan mulai hangat.
Bahkan setelah dua cangkir teh di meja ini tidak lagi mengepul, aku harap kamu masih mau duduk lebih lama, berbincang dan tertawa bersama.
Menjauh dengan setoples madu atau datang dengan menggenggam empedu.
Ya, itu tidak salah.
Belum lama ini, seorang berbaju koko datang dengan wajah datar. Terlihat arogan.
Sudah lama ia sering berlalu-lalang di muka rumah, namun kami tak pernah saling memandang.
Sore itu ia datang, mengetuk pintu dengan pensil di tangan.
aku pikir, itulah pensil yang aku cari untuk kertas di lemari.
Kami duduk dan mulai berbincang ria.
Dari kristal di dalam mata, abu-abu yang hidup di kanvas, ajaibnya dunia, hingga cemilan renyah berbunyi tawa. Tak sekali ia mengingatkan untuk tak lupa pada kalung Salib yang melingkari leher. Tak seperti mereka yang malu-malu untuk berkata.
Semua mulai terlihat berbeda. Tak ada bedanya kami memandang vertikal.
Hanya situasi terlalu sempit untuk pandangan kami yang luas.
Dan pembicaraan mulai hangat.
Bahkan setelah dua cangkir teh di meja ini tidak lagi mengepul, aku harap kamu masih mau duduk lebih lama, berbincang dan tertawa bersama.
Selasa, 29 April 2014
Sepasang Mata di Bawah Alis.
Lalu
setelah aku siap kembali menata ruang di dalam hati, ternyata kamu sudah
lebih dulu berada di sini. "Jangan menangis lagi seperti kemarin."
kira-kira begitulah katanya tadi.
Ya, tidak lagi ada lelehan air mata seperti kemarin. Tidak lagi.
Ya, tidak lagi ada lelehan air mata seperti kemarin. Tidak lagi.
Kamis, 20 Februari 2014
Surat yang Teringkari.
Maafkan aku, namun kita tidak bisa selamanya diam dan saling menunggu.
Lupakanlah semua yang lalu, waktu, yang sudah ajarkan kita tentang bagaimana melangkah ke depan,
yang telah mengijinkan kita tuk tau bagaimana rasanya dicintai, mencintai, peduli, marah, kecewa, dan banyak hal lain. Semua terasa menyenangkan dan indah.
Tapi saat ini bukan lagi kemarin saat kita masih hijau. Saat ini bukan lagi kemarin saat semua terasa mudah dan mungkin. Maafkan aku atas banyak hal sedih dan menyebalkan yang telah kutoreh.
Terima kasih atas kesediaanmu mendengarkan dan menemani langkah sulitku di hari lalu.
Sekarang hidup akan membawa kita pada tujuan yang berbeda, pada mimpi, asa, harapan, dan jalan yang berbeda. Kamu akan selalu hadir dalam doaku, tidak pernah luput dari relungku.
Semoga kamu bahagia.
Tetaplah jadi yang terbaik yang pernah kumiliki.
Biarlah singkatan nama kita tetap terukir pada tempatnya, hingga suatu nanti kita tersenyum saat larut dalam kenangan yang haru.
____________________________________________
Suratku yang tak pernah sampai, tak pernah selesai.
Tak pernah nyata dan tak lagi kuterima keberadaannya.
Surat lalu yang lusuh.
Surat yang kata-katanya mengusang terlelap jaman.
Surat yang kau tampik dengan kasih.
Yang melunturkan satu-satu kata dengan hujanan rindu yang tertampung.
Surat yang kuharap tidak pernah tulus dari hati, tak pernah kurangkai diujung jari.
Yang kuingkari.
Jadilah masa lalu suratku, menghilanglah dalam ketiadaan.
Lupakanlah semua yang lalu, waktu, yang sudah ajarkan kita tentang bagaimana melangkah ke depan,
yang telah mengijinkan kita tuk tau bagaimana rasanya dicintai, mencintai, peduli, marah, kecewa, dan banyak hal lain. Semua terasa menyenangkan dan indah.
Tapi saat ini bukan lagi kemarin saat kita masih hijau. Saat ini bukan lagi kemarin saat semua terasa mudah dan mungkin. Maafkan aku atas banyak hal sedih dan menyebalkan yang telah kutoreh.
Terima kasih atas kesediaanmu mendengarkan dan menemani langkah sulitku di hari lalu.
Sekarang hidup akan membawa kita pada tujuan yang berbeda, pada mimpi, asa, harapan, dan jalan yang berbeda. Kamu akan selalu hadir dalam doaku, tidak pernah luput dari relungku.
Semoga kamu bahagia.
Tetaplah jadi yang terbaik yang pernah kumiliki.
Biarlah singkatan nama kita tetap terukir pada tempatnya, hingga suatu nanti kita tersenyum saat larut dalam kenangan yang haru.
____________________________________________
Suratku yang tak pernah sampai, tak pernah selesai.
Tak pernah nyata dan tak lagi kuterima keberadaannya.
Surat lalu yang lusuh.
Surat yang kata-katanya mengusang terlelap jaman.
Surat yang kau tampik dengan kasih.
Yang melunturkan satu-satu kata dengan hujanan rindu yang tertampung.
Surat yang kuharap tidak pernah tulus dari hati, tak pernah kurangkai diujung jari.
Yang kuingkari.
Jadilah masa lalu suratku, menghilanglah dalam ketiadaan.
Kapan datang?
Setiap
malam, semua malam, tak satupun potongannya terasa berbeda.
Sejak satu persatu kelopak bunga jatuh meninggalkan kenangan. Tergeletak di tanah, menunggu tersentuh hujan, tertimbun guguran daun yang sebentar lagi terpisah dari dahan.
Kapan kau datang?
Menyatukan kelopak-kelopakku yang terbang bersama gelisah.
Sejak satu persatu kelopak bunga jatuh meninggalkan kenangan. Tergeletak di tanah, menunggu tersentuh hujan, tertimbun guguran daun yang sebentar lagi terpisah dari dahan.
Kapan kau datang?
Menyatukan kelopak-kelopakku yang terbang bersama gelisah.
Langganan:
Postingan (Atom)

